Minggu, 30 Oktober 2016

Ilmu Dasar Fotografi?

Photography atau Fotografi adalah proses melukis dengan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.

Prinsip fotografi adalah memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure).

Memahami Konsep Segitiga Exposure
Konsep segitiga exposure adalah konsep dasar fotografi untuk menentukan nilai exposure yang tepat berdasarkan nilai Shutter Speed, Aperture, dan ISO.


Shutter Speed
Shutter Speed atau kecepatan rana adalah kecepatan terbukanya jendela kamera sehingga cahaya bisa masuk ke dalam sensor kamera. Jika kalian ingin membekukan sebuah objek yang bergerak maka gunakan shutter speed yang cepat misalnya 1/60 sampai 1/8000 tergantung seberapa cepat sebuah objek bergerak. Tetapi harus disesuaikan dengan kondisi cahaya. Jika kalian menginginkan objek cepat menjadi blur maka gunakan shutter speed lebih lambat dari pegerakan objek, misalnya 1 s (detik) atau 1/4 s (detik) tergantung kondisi cahaya. Dan komposisi yang lain seperti aperture dan ISO juga harus seimbang.


Aperture/ Diafragma
Aperture atau diafragma adalah bukaan komponen lensa. Aperture adalah lempengan-lempengan yang mempengaruhi banyaknya cahaya yang masuk sehingga mempengaruhi intensitas cahaya yang masuk ke dalam lensa sampai ke sensor kamera. Dalam fotografi aperture ini dilambangkan dengan huruf "f" dengan satuannya diameter lempengan-lempengan logam tersebut.


ISO (Image Stabilizer Optic)
Setiap kamera punya sensitifitas ISO yang berbeda-beda, semakin besar ISO maka semakin besar kemungkinan noise (bintik-bintik dalam foto) usahakan selalu menggunakan ISO yang rendah. Karena ISO adalah besarnya cahaya masuk ke kamera. Seperti yang kita tau, biasanya akan terdapat angka di belakang tulisan ISO misalnya ISO 100, ISO 800 dan seterusnya. Angka itu merupakan tingkatan-tingkatan sensitifitas yang bisa kita setting pada sensor kamera.


Senin, 19 September 2016

Menjadi Jurnalis TV?

Apa yang anda pikirkan jika anda menjadi seorang jurnalis televisi? tentunya sangat menarik bukan? Televisi merupakan media massa yang belum tergantikan walaupun dunia online saat ini sudah menjadikan manusia perlahan meninggalkan televisi. Program-program di televisi selalu dibuat semenarik mungkin agar tidak ditinggalkan oleh penonton setianya. Program berita pun tidak dapat terhindar dari persaingan yang ketat, saat ini banyak program berita yang dikemas santai agar tidak terkesan kaku.

Menjadi seorang jurnalis TV membutuhkan kekuatan ekstra karena harus cekatan dan tidak membuang waktu terlebih saat live report sebab seorang reporter televisi harus mengejar berita agar tidak membuang sebuah momentum. "Tim yang solid pada live report sangat menentukan kredibilitas stasiun televisi, bila tim liputannya gagal kredibilitas stasiun televisi akan turun drastis bahkan dalam satu malam jika tim liputannya gagal mendapatkan gambar dari suatu peristiwa penting," seperti yang dilansir http://belajardimanasajadan.blogspot.co.id.

Jika harus menjadi jurnalis tv saya akan membuat berita semenarik mungkin yang tentunya punya tingkat keakuratan yang pas, selain itu memiliki kapabilitas yang tinggi saat memberikan kesaksian tentang informasi yang disajikan. Caranya dengan menggali informasi kepada narasumber dan mendapatkan informasi yang realitas dan sesuai faktanya.

Menjadi seorang jurnalis televisi yang jujur adalah sebuah keharusan melihat betapa mirisnya keruntuhan jurnalisme yang ada saat ini, jangan menjadi jurnalis yang hanya membudidayakan copy paste seperti yang banyak muncul belakangan ini. Seorang jurnalis yang hanya mengejar produksi berita tanpa adanya konfirmasi langsung terhadap narasumber, hal yang miris saat ini yang membuat mulai runtuhnya asas seorang jurnalis.
Karena itu menjadi seorang jurnalis televisi bukanlah hal yang mudah, karena jurnalis televisi menyediakan langsung berita yang ada dilapangan. Tetapi banyak juga yang sebelum on air dan membawakan kasus yang tersedia, beberapa dari jurnalis televisi didesak harus merubah alur sebuah fakta.