Prinsip fotografi adalah memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).
Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure).
Memahami Konsep Segitiga Exposure
Konsep segitiga exposure adalah konsep dasar fotografi untuk menentukan nilai exposure yang tepat berdasarkan nilai Shutter Speed, Aperture, dan ISO.
Shutter Speed
Shutter Speed atau kecepatan rana adalah kecepatan terbukanya jendela kamera sehingga cahaya bisa masuk ke dalam sensor kamera. Jika kalian ingin membekukan sebuah objek yang bergerak maka gunakan shutter speed yang cepat misalnya 1/60 sampai 1/8000 tergantung seberapa cepat sebuah objek bergerak. Tetapi harus disesuaikan dengan kondisi cahaya. Jika kalian menginginkan objek cepat menjadi blur maka gunakan shutter speed lebih lambat dari pegerakan objek, misalnya 1 s (detik) atau 1/4 s (detik) tergantung kondisi cahaya. Dan komposisi yang lain seperti aperture dan ISO juga harus seimbang.
Aperture/ Diafragma
Aperture atau diafragma adalah bukaan komponen lensa. Aperture adalah lempengan-lempengan yang mempengaruhi banyaknya cahaya yang masuk sehingga mempengaruhi intensitas cahaya yang masuk ke dalam lensa sampai ke sensor kamera. Dalam fotografi aperture ini dilambangkan dengan huruf "f" dengan satuannya diameter lempengan-lempengan logam tersebut.
ISO (Image Stabilizer Optic)
Setiap kamera punya sensitifitas ISO yang berbeda-beda, semakin besar ISO maka semakin besar kemungkinan noise (bintik-bintik dalam foto) usahakan selalu menggunakan ISO yang rendah. Karena ISO adalah besarnya cahaya masuk ke kamera. Seperti yang kita tau, biasanya akan terdapat angka di belakang tulisan ISO misalnya ISO 100, ISO 800 dan seterusnya. Angka itu merupakan tingkatan-tingkatan sensitifitas yang bisa kita setting pada sensor kamera.





Terima kasih bang wildan sangat bermanfaat ilmunya untuk saya.
BalasHapusWih dapet ilmu banyak nih dr artikel ini:D thankyou kak:D
BalasHapusKalau foto buta itu, foto kita lagi buta apa bagaimana ya kak? Artikelnya informatif kaka
BalasHapusKalau foto buta itu, foto kita lagi buta apa bagaimana ya kak? Artikelnya informatif kaka
BalasHapusMenarik nih, bisa buat belajar!
BalasHapusGood information👍
BalasHapusMenarik infonya buat yang baru menekuni fotografi, lanjutkan! 👌
BalasHapusKeren nih artikel.. Udh dpt teorinya, tinggal menerapkannya aja deh ke kamera.. Mantap
BalasHapusKeren artikelnya jadi dapet informasi baru.
BalasHapusGood article👍
BalasHapusKeren nih artikelnyaa👍
BalasHapusBehh mantap mantap, bisa nambah ilmu dengan baca artikel ini
BalasHapusMantap. Menambah wawadan tentang fotografi..
BalasHapusBagus infonya kak!
BalasHapusMantap 👍
BalasHapusmantap bro!
BalasHapusGood information for new bie
BalasHapusSetelah saya baca artikel ini, saya langsung merasakan manfaatnya, jadi langsung pengen jadi fotografer, trimakasih mas
BalasHapusTerima kasih ilmunya, sangat bermanfaat
BalasHapusWah
BalasHapusNais inpo gaaaaaaaan
BalasHapusNice article👍
BalasHapusNice article👍
BalasHapusJadi mau foto nih
BalasHapusMenarik juga nih, makasih ilmunya yaaw
BalasHapus